
Penandatanganan dokumen RKT 2026 kerjasama BTNTN dan YTNTN pada 9 Februari 2026 (Foto: @YTNTN)
Sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan hutan di Tesso Nilo demi melindungi habitat gajah, Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) bersama Balai TNTN telah menandatangani Rencana Kerja Tahunan (RKT) pada 9 Februari 2026 di Kantor BTNTN. Dalam pertemuan ini, selain membahas RKT 2026, Kepala BTNTN Heru Sutmantoro, Direktur Eksekutif YTNTN Yuliantony beserta staf juga melakukan evaluasi dari RKT sebelumnya.
“RKT ini sangat penting untuk dijadikan panduan kegiatan kita selama 2026 dan ada beberapa target aktivitas yang akan dilakukan. Semuanya ditujukan untuk perlindungan habitat dan hutan di TNTN,” ujar Direktur Eksekutif YTNTN yang akrab disapa Tony ini.
Penyusunan RKT merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerjasama antara BTNTN dengan YTNTN untuk penguatan fungsi TNTN serta upaya konservasi keanekaragaman hayati (kehati) dalam rangka pengawetan flora dan fauna di TNTN. Dalam perjanjian ini, di pasal 4 dijelaskan tindak lanjut kerjasama adalah dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan dijabarkan dalam RKT selama kerjasama berlangsung.
Penyusunan RKT ini juga menjadi mandat dari Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.85/Menhut-Ii/2014 Tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam. Bagi kegiatan yang berlokasi di area konservasi dan didukung adanya perjanjian kerjasama, maka RKT harus segera disusun 3 bulan pasca perjanjian disepakati.

Diskusi dan pembahasan evaluasi RKT 2025 serta pemaparan kegiatan RKT 2026 (Foto: @YTNTN)
“Jika tidak disusun baik RPP ataupun RKTnya, maka perjanjian kerjasama dapat dibatalkan. Ini dapat terjadi jika tidak ada keseriusan dari para pihak yang bekerjasama. Namun untuk YTNTN bersama BTNTN telah menyusun dan menyepakati rencana kerja selama satu tahun ke depan,” tegas Tony.
Selama 2026, YTNTN mengusulkan berbagai kegiatan, diantaranya:
Pertama, mitigasi konflik gajah dan manusia oleh tim Flying Squad (FS) Pangkalan Gondai. Kegiatan ini melibatkan tim khusus dari FS YTNTN yang terdiri dari pawang (mahout) dan gajah jinak terlatih untuk mitigasi konflik manusia dan gajah di sekitar TNTN. Aktivitas yang dilakukan berupa penggiringan gajah liar yang memasuki kawasan kebun atau permukiman, untuk kembali ke kawasan hutan. Selain itu juga patroli rutin serta monitoring dan identifikasi pergerakan gajah liar yang berpotensi mendekat ke kebun atau permukiman.
Kedua, operasi penghilangan ancaman. Kegiatan ini merujuk pada serangkaian tindakan cepat dan strategis yang dapat dilakukan tim YTNTN untuk menghilangkan ancaman langsung bagi gajah dan habitatnya. Beberapa tindakan yang dilakukan baik berupa penyelamatan gajah (rescue) jika sakit, terluka atau terkena jerat. Penanganan konflik, hingga relokasi dan rehabilitasi jika diperlukan upaya pemindahan gajah akibat habitatnya yang terfragmentasi.
Ketiga, pengkayaan pakan di habitat gajah. Kegiatan ini dipandang penting untuk dilakukan karena tingginya degradasi hutan dan lahan yang menjadi sumber pakan gajah. Upaya pengkayaan pakan ini ditujukan untuk meningkatkan daya dukung pakan alami serta memulihkan ekosistem yang rusak. Sehingga dapat mengurangi konflik antara gajah dan manusia.
Pengkayaan pakan dilakukan dengan menanam tanaman yang palatabel atau disukai gajah, namun juga penting mempertimbangkan kecepatan tumbuh dan memiliki biomassa tinggi. Beberapa tanaman yang bisa dijadikan pilihan diantaranya pisang, nangka, tebu, rumput gajah atau tanaman kayu dan rumput perdu.
Keempat, patroli pemantauan dan perlindungan satwa dengan Metode SMART. Kegiatan ini dilakukan untuk melakukan pemantauan terhadap keberadaan satwa dan ancamannya. YTNTN juga akan melakukan pemantauan terhadap kelompok gajah yang dipasang GPS Collar di lanskap Tesso Nilo.
“Kita juga perlu menggunakan teknologi untuk melakukan pemantauan terhadap keadaan satwa khususnya Gajah Sumatera di lanskap Tesso Nilo. Penggunaan teknologi akan memudahkan dan meningkatkan hasil dari pemantauan itu. Diperkirakan untuk pelaksanaan RKT ini, komitmen anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 1.042.632.750,” jelas Tony.

Dokumen RKT 2026 kerjasama BTNTN dan YTNTN ditandatangani oleh Kepala BTNTN Heru Sutmantoro dan Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantony (Foto: @YTNTN)
YTNTN berharap, kegiatan-kegiatan yang direncanakan pada 2026 ini dapat terlaksana dan memperoleh hasil yang maksimal sebagai upaya perlindungan bagi gajah dan habitatnya serta menjaga hutan di TNTN.#
Narahubung:
Direktur Eksekuti YTNTN, Yuliantony: +62 853-5573-1369
