Memanfaatkan pohon jeruk untuk mitigasi konflik manusia – gajah dan sumber ekonomi alternatif masyarakat di TNTN 

image

Tanaman jeruk nipis di Desa Lubuk Kembang Bunga yang dijadikan pagar tanaman untuk menghalau gajah masuk ke kebun warga (Foto: YTNTN).

Meningkatnya kejadian konflik antara manusia dan gajah dalam beberapa tahun terakhir di sekitar kantung gajah sumatera di Riau menjadi perhatian dalam penyusunan strategi mitigasi konflik. Sebab, interaksi negatif antara manusia dan gajah ini tak hanya merugikan manusia, namun juga hewan besar yang statusnya di International Union for Conservation of Nature (IUCN) sudah masuk dalam kategori kritis terancam punah. 

Populasi gajah sumatera yang terus menurun drastis, mendorong strategi-strategi mitigasi yang ramah bagi gajah dan manusia terus diuji cobakan. Berdasarkan hasil pendataan YTNTN, sejak dua dekade terakhir (2005 – 2026) ada 176 ekor gajah yang mati di sekitar Tesso Nilo. Penyebabnya, mulai dari sakit dan faktor usia, namun lebih dari 60 persen dikarenakan perbuatan ilegal. Gajah-gajah ini diracun, dijerat ataupun diburu untuk diambil gadingnya.

“Angka penurunan populasi ini sangat signifikan dibandingkan dengan kelahiran bayi-bayi gajah di Riau. Hingga kini, populasi gajah tersisa, terutama di TNTN saja tidak sampai 150 ekor. Jika terus dibiarkan, dalam beberapa tahun ke depan, populasi gajah sumatera akan terancam,” ujar Yuliantony, Direktur Eksekutif YTNTN.

Grafik 01. Trend kematian gajah sumatera di sekitar Tesso Nilo dalam 2 dekade terakhir.

YTNTN mendata beberapa penyebab kematian gajah karena diracun, dijerat ataupun kesetrum pagar listrik, erat kaitannya dengan upaya masyarakat untuk mengusir gajah agar menjauhi kebun maupun pemukiman. Ruang hidup yang saling tumpang tindih antara gajah dan manusia, membuat interaksi negatif ini tidak dapat dihindari.

Gajah diketahui sebagai hewan yang memiliki ruang jelajah yang luas dan ia mengingat dengan baik lintasan yang dilaluinya. Perubahan habitat yang terjadi baik karena alih fungsi kawasan hutan–perubahan hutan menjadi kebun sawit, perkebunan warga hingga permukiman–membuat jalur lintasan gajah terdampak. Tak jarang, gajah kerap melintas di kebun atau sekitar permukiman warga, karena ia mengingat jalur terdahulu.

Habitat yang berubah ini juga berdampak pada sumber pakan bagi gajah. Hilangnya tempat gajah untuk mencari makan, membuat gajah mau tak mau mencari sumber makanan yang tersedia, dan kebun warga menjadi salah satu pilihan.

“Masyarakat tentu ingin merasa aman dan ingin kebunnya tidak dirusak, maka upaya untuk melindungi ruang dan sumber penghidupan ini menjadi penting,” ujar Tony, “namun upaya-upaya ini kadang tak semuanya ramah baik bagi gajah atau manusia itu sendiri. Sehingga konflik yang menimbulkan korban terkadang tak dapat dihindari.”

YTNTN bersama para tim Flying Squad Pangkalan Gondai dan Tim Patroli SMART terus berupaya untuk memitigasi konflik ini dengan menggiring gajah-gajah yang masuk ke permukiman atau kebun untuk kembali ke hutan. Bersama gajah-gajah jinak yang terlatih, upaya ini terus dilakukan. Namun menurut Tony, perlu ada cara lain yang dilakukan agar dapat menghalau gajah. “Terkadang gajah ini aktif pada malam hari dan ada di beberapa titik. Perlu waktu untuk tim dapat menuju lokasi, dan disayangkan apabila tim tiba, konflik sudah tereskalasi dan menimbulkan dampak kerusakan,” jelas Tony.

Untuk itu, YTNTN melakukan riset, diskusi dan mendapatkan sebuah gagasan. 

image

Salah satu pagar tanaman jeruk di kebun warga yang telah tumbuh sejak 2024 di Desa Lubuk Kembang Bunga di dekat perlintasan gajah. (Foto: YTNTN)

“Kita coba untuk menanam pohon yang tidak disukai gajah sebagai pagar tanaman di sekeliling permukiman dan kebun warga. Area uji coba yang dipilih adalah di sekitar perlintasan gajah berada dalam fungsi kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) dan Area Peruntukan Lain (APL),” ujar Tony.

YTNTN bersama warga memilih tanaman jeruk sebagai pagar tanaman. Hal serupa pernah dilakukan Sri Lanka Wildlife Conservation Society (SLWCS) yang disebut Project Orange Elephant. SLWCS membuktikan gajah tidak menyentuh pohon jeruk yang ditanam warga, sehingga proyek ini berhasil melindungi kebun-kebun dan permukiman warga. Kandungan minyak atsiri dan senyawa limonene dalam jeruk dipercaya berkontribusi untuk menghalau gajah. Sebab, aroma dari tanaman ini, baik dari buah hingga daunnya dapat mengganggu indera penciuman gajah yang tajam.

“Kita menanam sejak 2024 dan sekarang sudah tumbuh dengan baik. Untuk jenisnya, kita pilih jeruk manis, kasturi, jeruk nipis dan lemon.” jelas Tony. Agar dapat menjadi pagar yang optimal, tanaman jeruk ini ditanam rapat. Jaraknya hanya 1,5 sampai 2 meter, sehingga cabang antara 1 pohon dengan lainnya menyatu dengan baik. 

image

Lemon yang ditanam dari 2024 telah berbuah di salah satu kebun warga Desa Lubuk Kembang Bunga. (Foto: YTNTN)

Uji coba ini dilakukan di 3 kebun masyarakat di Desa Pangkalan Gondai seluas 2 hektar dan Lubuk Kembang Bunga 1 hektar. Hingga saat ini sudah ada 2.000 batang yang ditanam YTNTN bersama masyarakat.

YTNTN menilai tanaman jeruk ini tidak hanya bermanfaat sebagai pagar tanaman yang melindungi dari aktivitas gajah. Namun juga menjadi salah satu sumber ekonomi alternatif masyarakat. Ada nilai keuntungan ekonomi yang diperoleh dari buah maupun daun yang dihasilkan. Pasca uji coba ini berhasil, YTNTN akan berupaya untuk memperluas ide ini di beberapa lokasi yang dinilai memiliki potensi konflik yang tinggi. Sehingga upaya mitigasi dapat berjalan maksimal.

“Kita berharap upaya ini berhasil dan dapat diperluas. Sebab ini adalah upaya mitigasi yang ramah bagi gajah maupun manusia. Tidak ada kekerasan terhadap gajah, juga memberi nilai ekonomi bagi warga,” ujar Tony, “apalagi jika ini dilakukan sejalan dengan penyediaan feeding ground yang cukup untuk gajah. Maka koeksistensi resolusi konflik ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.”#

Narahubung:

Direktur Eksekuti YTNTN, Yuliantony: +62 853-5573-1369

Sumber:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6978409/ 

https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83986

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top